KEARIFAN BUDAYA KEJAWANG

jaran 1

Siapa yang tak tahu dengan kuda lumping desa Kejawang, pada kesempatan saat itu lapangan desa Kejawang baru selesai pengerjaan dan sudah cukup baik untuk melaksanakan kegiatan. Pada saat itu di lapangan Desa Kejawang digelar kuda lumping asli dari Desa Kejawang. Selain sebagai ajang pementasan kuda lumping ini juga untuk memperingati tahun baru hijriah, atau orang jawa mengatakan tahun baru sura, kegiatan ini disambut gembira oleh warga Desa Kejawang, selain sebagai hiburan warga, juga sekaligus pengungkapan rasa senang dan syukur warga atas jadinya lapangan baru yang ada di Desa Kejawang.

DSCN5818

Desa kejawang memiliki kebudayaan yang sangat banyak, kuda lumping adalah salah satu kebudayaan yang ada di Desa Kejawang. Perlu di ketahui bahwa Kuda Lumping ini merupakan ikon dari Desa Kejawang, setiap penampilan dan ajang pementasan selalu mendapatkan nilai terbaik, selain pernah manggung di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) ternyata personil kuda lumping ini terdiri dari remaja laki-laki dan perempuan yang menjadi daya tarik tersendiri.

DSCN5813

 

DEMOKRASI KEJAWANG BELUM ADA DUANYA

pilkades 3

Pesta Demokrasi saat ini tidak hanya di parlemen saja, melainkan sudah merambah kesemua lapisan masyarakat, bagaimana tidak pada tahun ini 2013. Kabupaten Kebumen akan menggelar PILKADES dengan IV tahap sebanyak 400 kepala desa di Kabupaten Kebumen akan habis masa jabatannya pada 2013 ini. Masa jabatan Kades yang selesai pada 18 Juli sebanyak 96 desa,23 Juli sebanyak 116 desa, 2 Agustus sebanyak 137 desa dan 5 Desember sebanyak 51 desa. Kejawang sudah melaksanakan PILKADES di tahun 2012 lalu karena didahulukan oleh pemkab kebumen hal ini dikarenakan Kepala Desa Kejawang terdahulu sebelum Bapak Sadimin, meninggal dunia. PILKADES Kejawang oleh  PEMKAB Kebumen sepertinya sebagai bahan acuan dan percobaan yang digunakan dalam melaksanakan PILKADES selanjutnya. Kenapa tidak Kejawang sangat potensial dan sangat sadar akan demokrasi, atau boleh dibilang sudah memahami apa itu makna demokrasi, pada PILKADES lalu panitia Pemilihan Kepala Desa Kejawang yang diketuai oleh beliau bapak Kyai. Nurcholis mengadakan suatu gebrakan dan kegiatan yang sangat berbeda dengan kegiatan-kegiatan PILKADES pada umumnya. Mungkin baru pertama kali di Indonesia atau bahkan di Dunia, sungguh sangat mengejutkan dan membanggakan bagaimana tidak, Demokrasi yang hanya tingkat Desa bisa mengadakan dialog interaktif antar calon kepala Desa Kejawang saat itu.

pilkades 1

Panitia Pemilihan Kepala Desa Kejawang berusaha semaksimal mungkin mengurangi kerusuhan dan perpecahan warga masyarakat, serta memberikan pelajaran makna demokrasi yang benar terhadap masyarakat Kejawang khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Sepertinya PILKADES Kejawang setara dengan elit demokrasi DUNIA. LUAR BIASA. Kita semua pasti tahu pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat, Barack Obama 2012 lalau mengadakan dialog dan berkampanye dengan elegan dan apik ternyata Kejawang juga mampu melaksanakan itu. Kemudian Saat Pemilihan Gubernur Jakarta para calon mengadakan dialog dan sangat bergengsi, Kejawang ternyata taka kalah saing juga. Selain menekan perselisihan antar warga Kejawang, Panitia Pemilihan Kepala Desa juga bertujuan untuk memfasilitasi para calon menyampaikan orasinya dalam berkampanye yang sehat, selain itu warga Desa Kejawang juga tidak salah pilih, karena dari dialog interaktif ini warga menjadi tahu bagaimana kapasitas, dan kualitas para calon pemimpin meraka di tingkat Desa. Pelaksanaan dialog ini melibatkan anggota keamanan yang ada di Kec. Sruweng yaitu dari unsur polisi dan TNI untuk membantu kelancaran kegiatan dan pelaksanaan kegiatan ini pada H-2 pemilihan.

pilkades 2

Kegiatan dialog ini di moderatori oleh Dra. Pratiwi Sukrosih dan Sutarno serta notulen oleh Bapak Sajimun, dari pertanyaan-pertanyaan yang disampikan moderator kepada calon kades masyarakat menjadi tahu dan mengerti kualitas mereaka. Setelah pelaksanaan dialog ini camat Sruweng terdahulu Bapak Mulyadi, SH. Memberikan apresiasi kepada Panitia Pemilihan Kepala Desa Kejawang, karena kegiatan ini sangat baik dan mendidik bagi masyarakat serta menekan kerusuhan. Panitia tak hanya sampai disitu, bagi warga masyarakat yang tidak bisa hadir di pendopo balai Desa Kejawang bisa mendengarkan langsung dialog itu melalui radio ISTANA FM yang disiarkan secara langasung, karena di Desa Kejawang memiliki Radio komunitas, yang dapat digunakan untuk kemajuan Desa Kejawang.

pilkades 4

Para calon Kepala Desa Kejawang saat itu juga bersaing sangat sehat dan diantara mereka selalu terlihat kebersamaannya. Foto di atas adalah setelah berakhirnya kegiatan dialog interaktif yang dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan Kepala Desa Kejawang, mereka saling bergandengan dan sangat rukun, sehingga persaingannya sehat, serta tidak menimulakn gejolak yang membuat perpecahan. Ternyata Pemilihan Kepala Desa Kejawang mengundang perhatian warga diluar Kejawang, karena di Kecamatan Sruweng baru Desa Kejawang yang melaksanakan Pemilihan Kepala Desa.

pilkades 6

Pada saat hari H, pemilihan Kepala Desa kejawang dihadiri oleh beliau Bapak Buyar Winarso, SE. Selaku Bupati Kebumen, yang ingin memantau kegiatan Pesta Demokrasi Di Desa Kejawang dalam memilih pemimpin desa Kejawang 6 tahun mendatang.

pilkades 5

Foto di atas bukti keakraban dan kekeluargaan para calon kepala Desa Kejawang setelah pemungutan suara selesai, dan setelah pemungutan suara selesai para calon ini pulang kerumah masing-masing, dan hal ini kesepakatan bersama antara calon dan panitia.

semoga saja tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, amin. Semoga Kejawang selalu aman dan damai.

KUDUNE PANCEN DI SENGGOL

Kejawang, Sruweng Kebumen, alhamdulilah mulai hari Rabu 24 April 2013. Senggolan atau aspirasi masyarakat Desa Kejawang melalui blog Desa yang dibuat bersama gerakan komunitas kampungjagad kabupaten kebumen, membuahkan hasil. Bagaimana tidak, dengan adanya tulisan yang megeluhkan keadaan sumur pompa air buat warga yang sudah sangat memperihatinkan akhirnya diperhatikan oleh pemerintah dan sudah dilakukan pembronjongan guna melindugi sumur pompa yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa kejawang, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan.

BRONJONG 1

Pengerjaan bronjong sudah 3 hari yang lalu, sungguh sangat bermanfaat dengan adanya media blog ini, dan semoga saja media yang menggunakan jejaring interneti ini, juga dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Saat ini penggunaan internet sudah dirasakan oleh manusia kemanfaatannya. Dimulai dari instansi pemerintah, perbankkan dll. Desa Kejawang memanfaatkan media internet ini untuk sarana informasi dan kontrol bagi pemerintah, karena apa tak daya kekuatan Desa bila menginginkan sesuatu dri pemerintah diatas pemerintahan desa. Kepala Desa Kejawang Beliau Bapak Sadimin, menginginkan dengan adanya Blog Desa Kejawang yang terikat dengan komunitas blog kampungjagad, agar selaku eksis dan membuat tulisan-tulisan serta berita-berita yang mendukung pemerintahan, serta para peyumbang tulisan berharap tidak hanya satu dua orang saja, melainkan semua warga yang sudah bisa menggunakan jejaring internet diharapkan bisa menyumbangkan tulisan dan informasi Desa Kejawang.

BRONJONG 2

Sadimin, Kepala Desa Kejawang mengharapkan sekali kepada usia remaja, khususnya bagi usia produktif yakni SMA sederajat, untuk menyumbangkan ilmu pengetahuannya buat Desa Kejawang.

BERAT SAMA DIPIKUL RINGAN SAMA DIJINJING

Featured

11

Kejawang, kampungjagad – Pada malam ini 13 April 2013 pendopo balai Desa Kejawang tak seperti biasanya, pukul 20.00 WIB, para aparatur pemerintah Desa Kejawang sebut saja para pembantu Kepala Desa Kejawang dalam menjalankan roda pemerintahan Desa. Kalau di Indonesia para pembantu presiden kan menteri, nah sebut saja di Desa Kejawang itu para menterinya ya para RT-RT sedesa Kejawang, selain dibantu oleh para perangkat desa, tak kalah pentingnya para RT ini dalam membantu roda pemerintahan Desa Kejawang.

swh3

Pada malam ini 13 April 2013. Kepala Desa Kejawang mengundang para menterinya untuk berkoordinasi kembali dan menghimbaukan unutuk saling bekerjasama dalam membantu dan membangun Desa Kejawang yang lebih baik lagi. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, ternyata semboyan itu diapakai oleh beliau bapak Sadimin kepala Desa Kejawang. Mengapa demikian karena pada kesempatan rapat itu ternyata bapak Sadimin memberikan sebagian pendapatan bengkok, sawahnya unutk para RT yang telah ikut andil dalam memajukan desa Kejawang. Beliau mengatakan bahwa maju tidak nya program pemerintah khususnya pemerintahan desa Kejawang sangat dibantu oleh para ketua RT yang ada di Desa Kejawang.

swh2

Pada acara tersebut diadakan pembagian sawah, dimana setiap RT diberikan jatah 50 ubin sawah untuk di garap dan digunakan sebagai kekayaan (kemakmuran) RT rencana kepala Desa Kejawang beliau bapak Sadimin penggarapan sawah ini dilaksanakan selama beliau menjabat sebagai kepala Desa Kejawang. Jumlah RT di Desa Kejawang ada 15 RT. Kegiatan ini merupakan kegiatan kepedulian Kepala Desa Kejawang terhadap kesejahteraan masyarakat khususnya untuk kepengurusan RT yang ada di Desa Kejawang. Semoga kegiatan ini terus berjalan bagi pemimpin-pemimpin selanjutnya.

swh1

 

 

Ketika “ia” Melupakan, Kejawang Sesungguhnya Menangis

e

Janganlah engkau berpikir apa yang saya dapat dari Desa Kejawang, tetapi berpikirlah apa yang saya berikan untuk Desa Kejawang. Sungguh sangat sederhana dan mudah untuk di tulis maupun diucapkan. Hal yang terberat adalah untuk melakukan dan bertindak dari apa yang kita pikirkan, apa yang kita inginkan dan apa yang sudah kita tulis. Dari sekian banyak orang yang tinggal di suatu desa kebanyakan hanya tinggal dan ikut saja dari apa yang sudah menjadi aturan dari desa tersebut. Lalu apakah desa tak memerlukan bantuan dan perhatian kita? Kita semua sudah tidak asing lagi dengan slogan gubernur kita Bapak Bibit Waluyo yakni “BALI DESA MBANGUN DESA” perlu kita hayati dan kita cerna slogan tersebut dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

f

Penulis bukan berarti mengatakan dan menjustmen semua orang seperti itu dan tak pula mengatakan semua orang tidak ikut andil terhadap pembangunan desa baik dari fisik maupun non fisik, bukankah sebuah desa terbentuk dari orang-orang yang menghuni desa tersebut? Penulis hanya melihat dari sedikit sudut pandang yang berbeda, dan sudut pandang itu cukup sederhana yakni dilihat dari kesadaran dan partisipasi warga masyarakat Desa Kejawang terhadap pemerintahan desa yang ada. Kebanyakan orang hanya mencaci, menyoroti, menganalisa dari satu sudut pandang atau jika dalam asesmen (penilaian) guru terhadap siswa hanya menggunakan satu alat asesmen, padahal minimal penilaian terhadap siswa menggunakan tiga alat yang digunakan.  Pengalaman penulis yang sekarang berumur 23 tahun, dan mulai mengamati serta memperhatikan kondisi Kejawang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sungguh ironis dan sangat memprihatinkan, sungguh sangat sedih desa ini.

DSC00656

Pembaca pasti sering mendengar pepatah bahwa “KASIH IBU SEPANJANG MASA, KASIH ANAK SEPANJANG GALAH” andai kata desa ini bisa menangis maka tak terbendung linangan air matanya, betapa tidak banyak sekali anak-anak desa Kejawang yang sukses, berhasil dan hidup berkecukupan, semua kebutuhan terpenuhi baik kebutuhan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan materi. Desa Kejawang banyak melahirkan anak-anak yang berkompeten, sukses, dan berhasil. Namun sangat disayangkan kecerdasan, keberhasilan dan kesuksesan mereka tak sedikit dari mereka yang melupakan dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, padahal tempat itu adalah tempat tumpah darah kita yang pertama kali, tempat kita bersosialisasi pertama dengan lingkunga, tempat dimana kita bermain, tempat pertama dimana kita menghirup udara segar, tak kita pungkiri bahwa dari hasil bumi desa Kejawang kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap menerima informasi dan ilmu pengetahuan untuk bekal hidup kita. Naifnya masih saja warga maupun masyarakat desa Kejawang yang tidak bangga dan bahkan yang paling menyakitkan adalah menjelek-jelekan desanya sendiri, sungguh sangat sakit bila kita rasakan. Bisa kita rasakan, pikirkan dan renungkan bersama, orang-orang yang sukses di luar Kejawang, sangat banyak sekali, ada yang menjadi dokter, guru, insinyur, polisi, polwan, pejabat, pengusaha, dan para tokoh-tokoh yang sukses diberbagai bidang tak sedikitpun yang ingat dan menengok kebelakang dari mana ia dilahirkan, dibesarkan dan tumbuh berkembang menjadi orang-orang yang sukses. Desa Kejawang tak mengharap apa-apa dan tak juga menginginkan imbalan apapun dari anak-anak yang telah terlahir di Desa Kejawang, ia hanya berdiam diri, berdoa dan terus berusaha melahirkan generasi bangsa yang bermartabat, cerdas, dan berakhlak. Penulis mohon maf bila ada yang tersinggung dengan tulisan ini, penulis hanya mengungkapkan rasa prihatin kepada warga Kejawang terutama bagi mereka yang benar-benar terlahir di Kejawang yang kurang peduli dan menyumbangkan apa yang ia bisa untuk Desa Kejawang tercinta ini. Penulis sangat berharap semoga Desa Kejawang selalu memiliki citra yang baik, dan semua warga Kejawang baik yang berada di desa Kejawang maupun tidak selalu menjaga nama baik Desa Kejawang. Pepatah mengatakan “MIKUL DUWUR MENDEM JERO” ini berarti kita sebagai anak Desa Kejawang berkewajiban mengangkat martabat dan nama baik desa Kejawang setinggi-tingginya serta menutupi semua kejelekan yang ada di Desa Kejawang. Bukan berarti kita malu terhadap kejelekan yang ada di Desa Kejawang, tetapi kita sebagai manusia yang beriman apalagi bagi kita yang muslim bukankan kita wajib menutui sebuah aib? Semoga bermanfaat (Str.89)

DSC00574

 

alam desa kejawang yang sudah banyak memberikan jasa kepada kita

DSC00573

 

“MANGGA” POSYANDUKU

pos5

Kampung Jagad, KEJAWANG- Indonesia menginginkan kesehatan merata diseluruh wilayah Indonesia, dan program itu juga sudah dirasakan oleh Desa Kejawang yang merupakan sebagai Desa Siaga dimana Desa Kejawang merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa, kejadian bencana, kecelakaan dan lain-lain dengan memanfaatkan potensi setempat, secara gotong royong.

pos

Selain sebagai upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat, pengembangan Kejawang juga mencakup upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Inti dari kegiatan Desa Kejawang adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat. Salah satu upaya Desa Kejawang untuk mencipatakan kesehatan yakni adanya Posyandu (Pusat Layanan Terpadu).

pos2

Posyandu (Pusat Layanan Terpadu) Mangga merupakan salah satu Posyandu yang terdapat di Desa Kejawang. Desa Kejawang memiliki 4 posyandu dimana pembagian ini bertujuan untuk memudahkan dan memfokuskan perhatian tenaga kesehatan kepada balita. Posyandu ini terdapat di RT 4 RW 4 desa tersebut. Pemanfaat posyandu ini terdiri dari 5 Rt yaitu: RT 01 Rw 04, RT 02 Rw 04, RT 03 Rw 04, RT 04 Rw 04, RT 3 Rw 3. Jumlah balita pada Posyandu ini cukup banyak terdapat 51 balita, yang terdiri dari balita perempuan dan laki-laki. Kegiatan di posyandu yang bernama “MANGGA” ini ditangani oleh bidan Desa Kejawang beliu Fatonatul Hidayah, A.Md.Keb. selain ditangani oleh bidan Desa, juga dibantu oleh SKD (Sub Klinik Desa) dan para kader-kader lainnya. Kegiatan di posyandu ini dimaulai dari penimbangan berat badan, lingkar kepala, panjang badan dan kegiata penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh bidan Desa.

pos1

“kesadaran masyarakat Desa Kejawang pada umumnya sudah baik, namun juga masih beberapa oraang yang masih malu bahkan menyepelekan kesehatan” tutur bidan muda itu. Majunya jaman dan berkembangnya teknologi modern saat ini pemerintah Desa Kejawang sangat mendukung dan sellau aktif menyertakan masyarakatnya yang termasuk dalam keanggotaan SKD (Sub Klinik Desa) untuk mengikuti workshop maupun rapat-rapat tentang kesehatan dari UPTD Puskesmas Kecamatan Sruweng. Hal ini bertujuan agar kesadaran dan rasa peduli masyarakat terhadap kesehatan semakin baik dan benar.

pos3

 

KEJAWANG PEMIKAT BAGI PENCINTA PRAMUKA

DESA KEJAWANG DIMINTAI BERBAGAI KALANGAN KHUSUSNYA BAGI PENCINTA PRAMUKA.

DSC00360

 

Siapa yang tidak tertarik dengan kondisi di salah satu daerah Desa Kejawang. Bagi Pencinta gerakan Pramuka kondisi dan kecocokan daerah Kejawang sangat baik untuk kegiatan kepramukaan. Sampai saat ini masih banyak kalangan yang belum tahu dengan kondisi wilayah Kejawang.

DSC00359

Kondisi lapangan Desa Kejawang yang cukup untuk menampung 50 tenda peserta pramuka. Selain luas lapangan Desa Kejawang sangat strategis dengan kegiatan yang sering dilakukan oleh pramuka baik dari kegiatan fisik maupun non fisik. Lapangan Desa Kejawang sangat dekat dengan sungai, tapi perlu tanda petik, walau dekat dengan sungai saat banjir lapangan ini tidak terkena banjir karena lapangan Desa Kejawang 3 meter lebih tinggi dari permukaan sungai.

DSC00656

Untuk kegiatan perkemahan lapangan ini sangat cocok, karena kegiatan mencuci dan lain sebagainya dapat di sungai, secara alami, bukankah kegiatan kepramukaan itu harus dengan alam???????? Tapi jangan khawatir di dekat lapangan terdapat WC yang dapat digunakan oleh umum, serta banyak perumahan2 di dekat lapangan, nah disinilah kegiatan kepramukaan sangat cocok untuk bekal peserta pramuka.

DSC00611

Tak lengkap rasanya jika kegiatan pramuka tidak dengan kegiatan lapangan atau jalan-jalan mendaki gunung, nah Kejawang sangat potensial dan strategis, karena tak jauh dari lapangan kurang lebih 500 m terdapat pegunungan yang indah dan cocok untuk kegiatan pramuka, di pegunungan itu juga terdapat areal yang luas dan leluasa untuk mengadakan kegiatan, dari puncak keyinggian dapat melihat keindahan arela perswahan dan pusat kota Kecamatan Sruweng, sungguh sangat indah pemandangan yang ada di Desa Kejawang.

DSC00610

Terdapat perkebunan singkong, apalagi untuk kegiatan camping, dan saat malam hari bakaran singkong, sungguh luar biasa.

DSC00615

areal yang luas untuk kegiatan kepramukaan

DSC00614

sangat sejuk dan alami

DSC00640

terdapat pepohonan yang besar, bisa buat flying fok

DSC00618

jalan-jalan yang bagus dan apik untuk bersenang-senang.

Bagi pecinta pramuka wilayah ini sangat cocok untuk kegiatan itu, nah bagi para pecinta pramuka jangan ketinggalan dan jangan tak pernah merasakan keindahan dan keaslian alam Desa Kejawang untuk kegiatan kepramukaan.

 

 

INDONESIA BUKAN INDONESIA TANPA KEJAWANG

warga kejawangKejawang, merupakan salah satu dari jutaan desa yang ada di Indonesia. Kehidupan desa dengan kota sangatlah berbeda, perbedaan ini terilhat dari segi sosial, pendidikan, perilaku dan gaya hidup baik kelompok maupun perorangan.Adanya hubungan (interaksi) sosial, kesadarana akan jenis yang sama dan orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan merupakan dasar yang digunakan untuk membedakan kelompok-kelompok sosial. Sedangkan menurut tokoh sosilog Giddens mengatakan bahwa kelompok sosial adalah sejumlah orang yang berinteraksi satu sama lain secara teratur, dan interaksi yang dilakukan oleh sejumlah orang tersebut, Robert K. Merton mengatakan bahwa interaksi itu sesuai dengan pola yang telah mapan. Kelompok-kelompok sosial yang ada dan menjadikan perbedaan antara wilayah desa dengan perkotaan yaitu kelompok berdasarkan konsep dasar paguyuban (Gemeinschaft) dan patembayan (Gesellschaft).
Kejawang hingga saat ini masih sangat baik kehidupan sosialnya, banyak orang bahkan para pakar sosilogi mengatakan perubahan-perunahan sosil sangat drastis terjadi di masyarakat. Apabila dilihat dari konsep dasarnya maka Desa Kejawang masih pada  konsep dasar paguyuban (Gemeinschaft), seperti yang dikatakan Tonnies ahli sosiologi, mengenai paguyuban yaitu:
1. Intimate, yaitu adanya hubungan yang mesra dan menyeluruh khusus untuk beberapa orang saja.
2. Private, adanya hubungan yang bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja.
3. Ekclusive, hubungan tersebut hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang lain di luar “kita”.
Pada masyarakat Kejawang ditemui suatu pagyuban karena tempat yang sama, atau dengan kata lain warga Kejawang jenis paguyubannya dikarenakan kesamaan tempat tingggal (Gemeinschaft of place).Kehidupan meraka sangat rukun dan harmonis, mereka saling berdekatan dan sangat harmois, sehingga di antara mereka saling tolong menolong antar anggota.

DSC09337

Salah satu kegiatan yang dilakukan warga Kejawang adanya kegiatan kerja bakti, saling bekrjasama melakukan seuatu, seperti membangun sarana prasarana yang diperlukan di lingkungan sekitar.

DSC09344

Banyak hal yang baik dan positif, bila kita mengambil hikmah adanya kegiatan yang dilaukan di desa, apalagi Desa Kejawang masih sangat baik kehidupa sosialnya, mereka melaksanakan sesuatu untuk kepentingan sosial saja tanpa memikirkan imbalan dan harapan sesuatu, hal inilah yang menjadikan warga Kejawang harmonis, rukun serta saling toleransi.

Photo0343

Kebersamaan dan saling tolong menolong antar warga sangat terilhat, mereka saling bahu membahu, bantu membantu satu sama lain, meraka mengerti dan memahami satu sama lain. Desa Kejawang walau di tahun 2013, masih memiliki jiwa kebersamaan sehidup seperjuangan, andaikata semua warga masyarakat Indonesia memiliki kehidupan yang sperti ini alangkah indahnya negeri ini, negeri Republik Indonesia yang terkenal dengan keramahan, kesopanan dan kebersamaannya akan kokoh dan terkenal di DUNIA ini. Semoga para generasi muda Bangsa selalu menjaga tradisi dan budaya yang ada, karena dari tradisi dan budaya  dari setiap desa itu Indonesia menjadi kaya akan beraneka budaya yang menjadikan persatuan dan kesatuan.

SEJARAH NAMA DESA KEJAWANG

Desa Kejawang berdiri kurang lebih 100 tahun yang lalu. Masih banyak warga Kejawang yang belum tahu sejarah Desa Kejawang itu sendiri. Penulis pada kesempatan ini akan mengungkap sekelumit tentang cikal bakal nama DESA KEJAWANG. Walau baru sekelumit ini semoga saja dapat bermanfaat bagi pembaca semua, dan pada kesempatan nanti insya alloh akan tertuliskan sejarah Desa Kejawang secara komprehensif. Penulis mengakui bahwa para sesepuh Desa Kejawang sudah banyak yang tiada dan bahkan bukti-bukti sejarah juga sangat sedikit. Oleh karena itu penulis baru sempat menuliskan bagian terkecil dan salah satu babak yang menjadi cikal bakal nama Desa Kejawang.

Pada zaman penjajahan belanda, dan saat-saat runtuhnya kerajaan mataram dan pada saat itu kerajaan mataram di pimpin oleh Sultan Agung. Kerajaan mataram merupakan sebuah kerajaan islam yang besar dan tersohor. Dari beberapa referensi tentang biografi Sultan Agung, dimana beliau merupakan sorang raja yang suka berkelana dan beliau sangat suka berkelana dari gunung ke gunung. Penulis pernah membaca sebuah cerita yang berisikan dialog sultan Agung dengan Wali Songo yakni Sunan Kali Jaga.

Sunan Kalijaga berkata, “Wahai, ananda raja yang mulia berkat rahmat Tuhan dapat menguasai seluruh Jawa, mengapa ananda berbuat seperti itu? (maksudnya berpindah-pindah dari gunung ke gunung) Kanjeng Sultan menjawab, “Tak apa-apa, hanya daripada diam saja seusai sembahyang subuh, saya sering mencoba melestarikan/mengikuti kisah pada zaman Sang Arjuna. Jika ingin enak badan, ya pergi meloncat-loncat antara gunung ke gunung seperti ini.

Masa-masa akhir usia Sultan Agung sering sekali menenangkan diri atau bersemedi menghadap sang pencipta. Seperti kita ketahui bersama bahwa para raja yang ada di peawayangan, banyak yang melakukan semedi menengkan diri di gunung-gunung untuk mengkhusyukan diri menghadapa sang khalik, alasan para raja karena suasana pegunungan menjadikan hati dan pikiran tenang dan tidak terganggu oleh gemerlapnya dunia. Begitu pula dengan Sultan Agung, ternyata beliau sangat mengagumi para penokohan Raja-raja di pewayangan.  Berdasarkan sumber sejarah dan bukti fisik yang ada maka Desa Kejawang pernah disinggahi oleh beliau Sultan Agung, tepatnya di dataran tinggi Desa Kejawang, seringnya warga Kejawang menyebut dataran tinggi ini dengan “ARDI TAMBAK SARI” atau “GUNUNG TAMBAK SARI”. Di tempat inilah nama Desa Kejawang tercipta dan terlahir. Sebelum berbicara labih banyak, penulis juga ingin mengungkap rahasia nama TAMBAK SARI itu sendiri. Dari berbagai sumber dan kenyataan yang ada di masyarakat penulis dapat menceritakan bagaimana gunung atau dataran tinggi yang ada di Desa Kejawan bernama tambak sari.

Pada saat Sultan Agung singgah (mampir) di Desa Kejawang tepatnya di gunung Tambak Sari sekarang ini, beliau tidak sendiri melainkan beliau bersama 7 orang pengawalnya. Jadi ada 8 orang yang  singgah di gunung Tambak Sari yakni Sultan Agung dan 7 orang pengawalnya. Kesukaan Sultan Agung untuk bertapa atau menenangkan diri, ternyata dapat memberikan berkah dan manfaat yang luar bisa bagi Desa Kejawang. Beliau merupakn raja yang sangat disegani oleh masyaraktanya, serta seorang ulama yang penuh dengan karomah. Bukti Sultan Agung pernah singgah di Desa Kejawang tepatnya di gunung Tambak Sari adanya petilasan (bekas) tempat beliau singgah. Petilasan Sultan Agung ini di beri nisan (kijing) untuk memanipulasi pasukan Belanda waktu itu, karena pada saat kepemimpinan Sultan Agung Belanda masih menguasai negeri ini. Keberadaan sultan Agung saat itu sangat mengganggu kekuasaan Belanda untuk bergerak, karena Sultan Agung adalah raja yang sangat kuat dan berpengaurh kepada masyarakat. Dari permasalahan itu maka Pemerintahan belanda memerintahkan kepada pasukan belanda untuk mengejar dan membunuh Sultan Agung. Petilasan Sultan Agung yang ada di Desa Kejawang dibuat kijing (batu nisan) untuk mengelabuhi pasukan belanda ketika menemukan peristirahatan Sultan Agung, dan melihat adanya batu nisan (kijing) pasukan belanda yakin dan terkecoh bahwa Sultan Agung sudah wafat. Bukti petilasan yang ada di gunung tambak sari ada 8 kijing, dimana posisi saat ini 4 kijing berada di dalam ruangan dan 4 kijing berada di luar ruangan.

4

Foto ditas adalah petilasan para punggawa kerajaan yang menemani Sultan Agung berada di sebelah timur lobi menuju ruang utama berjumlah 3.

5

Foto diatas petilasan prajurit kerajaan mataram yang menemani sultan Agung, berad di sebelah timur lobi bangunan utama berjumlah 1.

2

Sedangkan petilasan Sultan Agung berada di dalam bangunan (ruang) bersama 3 teman lainyya. Sebenarnya dulu belum ada bangunan hanya batu nisan saja, melainkan untuk menjaga dan menjadikan wilayah (tempat) ini tidak rusak maka seorang tokoh masyarakat Desa Kejawang, kala itu tahun 1977 di bangun dan dijadikan tempat ini permanen dengan bangunan semen, oleh S. Mulyo Utomo. Beliau merupakan moro tua  dari Kepala Desa Kejawang sebelum pemerintahan Bp. Sadimin yakni beliau bapak Wahyo Utomo.

Pada saat berkunjung di gunung Tambak Sari sang Sultan merasa lapar dan memerintahkan salah satu prajuritnya yang bernama “Bondan Kejawan” untuk mencari makanan di sekitar gunung tersebut. Mendengar perintah sang raja Bondan Kejawan langsung melaksanakan perintahnya. Saat mencari makanan Bondan Kejawan melihat sebuah rumah dan langsung saja ia menghampiri dan memanggil penghuni rumah tersebut. Setelah memanggil-manggil maka keluarlah penghuni rumah tersebut dan ternyata seorang wanita 60 tahunan, ia bernama Nyai Jemik. Setelah bertemu maka Bondan Kejawan menyampaikan kedatangannya kepada Nyai Jemik, bahwa dia sedang lapar dan ingin meminta makanan. Tanpa ragu dan dengan senang hati Nyai Jemik ini menyediakan makanan untuk Bondan Kejawan. Setelah kenyang Bondan Kejawan baru menceritakan bahwa di daerah pegunungan ada seorang Raja dan para pengikutnya yang sedang kelaparan. Mendengar cerita itu maka Nyai Jemik terkejut dan sangat kagum, setelah itu Nyai Jemik meminta bantuan Bondan Kejawan untuk menyiapkan makanan yang akan di sajikan kepada sang Raja beserta para pengawalnya. Nyai Jemik bersama Bondan Kejawan menyiapkan makanan dan makanan itu berupa:

  1. Satu buah ayam Panggang di buat GECOK (ayam panggang di sewir2 diberi santan dan terasa pedas)
  2. Sayur bening daun kelor (tegean kelor satu baskom)
  3. Sambal terong (sambal terong yang kecil-kecil sebesar kelereng)
  4. 7 buah kepel nasi (giling pitu)

Setelah makanan siap maka Nyai Jemik beserta Bondan Kejawan membawanya ke tempat Sultan Agung singgah. Setelah sampai Sultan Agung dan para temannya terkejut, namun sang Sultan akhirnya memahami setelah Bondan Kejawan menceritakan semuanya. Pada saat mulai menikmati hidangan yang dibawa oleh Bondan Kejawang, Sultan Agung bertanya “kenapa nasinya hanya 7 kepel”….. Bondan Kejawan menceritakan bahwa Bondan Kejawan sudah makan di rumah Nyi Jemik karena sudah tak bisa menahan rasa laparnya. Akhirnya mereka tertawa bersama-sama. Di tengah-tengah menikmati hidangan makanan Sultan Agung berucap “ sungguh indah sekali dan sejuk gunung ini… sungguh menjadikan makanan ini TAMBAH SARI” istilah itu akhirnya di pakai sampai saat ini oleh warga Desa Kejawang, karena lidah orang jawa sulit akhirnya Tambah Sari menjadi Tambak Sari. Istilah Tambah Sari sebenarnya adalah tambah nikmat (semakin nikmat).

Lalu bagimana asal usul nama Kejawang????? Setelah menghabiskan semua hidangan, Sultan Agung  mengucapkan terima kasih kepada Nyi Jemik. Sebelum beliau meninggalkan gunung tambak sari ia berkata: Nyi Jemik,,,, terima kasih atas jamuan yang kamu berikan kepada kami,,, dan untuk mengenang kami pernah singgah disini maka jadikanlah tempat ini sebagai bukti sejarah kelak dikemudian hari, dan sebagai ucapan terima kasihku kepada prajutiku yang berusaha mencari makanan buatku maka wilayah ini saya kasih nama KEJAWAN, itu adalah nama belakang dari muridku, dan suatu saat nanti putra mu akan menjadi seorang pemimpin di wilayah ini.

Setelah berwasiat maka Sultan Agung dan kawan-kawannya meninggalkan desa Kejawang. Lalu kenapa berubah menjadi KEJAWANG padahal dulunya adalah Kejawan,, hal ini karena memudahkan orang berucap maka menjadi KEJAWANG. Dan ternyata benar bahwa putra pertama Nyi Jemik Menjadi Kepala Desa Kejawang pertama. Sampai saat ini warga Kejawang ketika bulan sa’ban dan Suro mengunjungi gunung tambak sari untuk bersiaroh dan berdoa, mengenang cikal bakal desa Kejawang di gunung tambak sari, selain bulan itu, adat warga Kejawang untuk acara pernikahan maupun sunatan selalu mengunjungi gunung itu unutuk berziaroh,, dan ziaroh ini dilakukan oleh sang penganten sunat maupun pengantin nikah. Dan setelah mengunjungi gunung tambak sari selalu mengadakan kenduri (syukuran) dan untuk mengenang zaman dahulu maka di dalam kenduri itu selalu ada menu-menu yang disajikan buat Sultan Agung dan bala punggawanya, yaitu: Satu buah ayam Panggang di buat GECOK (ayam panggang di sewir2 diberi santan dan terasa pedas), Sayur bening daun kelor (tegean kelor satu baskom), Sambal terong (sambal terong yang kecil-kecil sebesar kelereng), 7 buah kepel nasi (giling pitu).

CIKAL BAKAL DESA KEJAWANG

1

Desa Kejawang berdiri kurang lebih 100 tahun yang lalu. Masih banyak warga Kejawang yang belum tahu sejarah Desa Kejawang itu sendiri. Penulis pada kesempatan ini akan mengungkap sekelumit tentang cikal bakal nama DESA KEJAWANG. Walau baru sekelumit ini semoga saja dapat bermanfaat bagi pembaca semua, dan pada kesempatan nanti insya alloh akan tertuliskan sejarah Desa Kejawang secara komprehensif. Penulis mengakui bahwa para sesepuh Desa Kejawang sudah banyak yang tiada dan bahkan bukti-bukti sejarah juga sangat sedikit. Oleh karena itu penulis baru sempat menuliskan bagian terkecil dan salah satu babak yang menjadi cikal bakal nama Desa Kejawang.

Pada zaman penjajahan belanda, dan saat-saat runtuhnya kerajaan mataram dan pada saat itu kerajaan mataram di pimpin oleh Sultan Agung. Kerajaan mataram merupakan sebuah kerajaan islam yang besar dan tersohor. Dari beberapa referensi tentang biografi Sultan Agung, dimana beliau merupakan sorang raja yang suka berkelana dan beliau sangat suka berkelana dari gunung ke gunung. Penulis pernah membaca sebuah cerita yang berisikan dialog sultan Agung dengan Wali Songo yakni Sunan Kali Jaga.

Sunan Kalijaga berkata, “Wahai, ananda raja yang mulia berkat rahmat Tuhan dapat menguasai seluruh Jawa, mengapa ananda berbuat seperti itu? (maksudnya berpindah-pindah dari gunung ke gunung) Kanjeng Sultan menjawab, “Tak apa-apa, hanya daripada diam saja seusai sembahyang subuh, saya sering mencoba melestarikan/mengikuti kisah pada zaman Sang Arjuna. Jika ingin enak badan, ya pergi meloncat-loncat antara gunung ke gunung seperti ini.

Masa-masa akhir usia Sultan Agung sering sekali menenangkan diri atau bersemedi menghadap sang pencipta. Seperti kita ketahui bersama bahwa para raja yang ada di peawayangan, banyak yang melakukan semedi menengkan diri di gunung-gunung untuk mengkhusyukan diri menghadapa sang khalik, alasan para raja karena suasana pegunungan menjadikan hati dan pikiran tenang dan tidak terganggu oleh gemerlapnya dunia. Begitu pula dengan Sultan Agung, ternyata beliau sangat mengagumi para penokohan Raja-raja di pewayangan.  Berdasarkan sumber sejarah dan bukti fisik yang ada maka Desa Kejawang pernah disinggahi oleh beliau Sultan Agung, tepatnya di dataran tinggi Desa Kejawang, seringnya warga Kejawang menyebut dataran tinggi ini dengan “ARDI TAMBAK SARI” atau “GUNUNG TAMBAK SARI”. Di tempat inilah nama Desa Kejawang tercipta dan terlahir. Sebelum berbicara labih banyak, penulis juga ingin mengungkap rahasia nama TAMBAK SARI itu sendiri. Dari berbagai sumber dan kenyataan yang ada di masyarakat penulis dapat menceritakan bagaimana gunung atau dataran tinggi yang ada di Desa Kejawan bernama tambak sari.

Pada saat Sultan Agung singgah (mampir) di Desa Kejawang tepatnya di gunung Tambak Sari sekarang ini, beliau tidak sendiri melainkan beliau bersama 7 orang pengawalnya. Jadi ada 8 orang yang  singgah di gunung Tambak Sari yakni Sultan Agung dan 7 orang pengawalnya. Kesukaan Sultan Agung untuk bertapa atau menenangkan diri, ternyata dapat memberikan berkah dan manfaat yang luar bisa bagi Desa Kejawang. Beliau merupakn raja yang sangat disegani oleh masyaraktanya, serta seorang ulama yang penuh dengan karomah. Bukti Sultan Agung pernah singgah di Desa Kejawang tepatnya di gunung Tambak Sari adanya petilasan (bekas) tempat beliau singgah. Petilasan Sultan Agung ini di beri nisan (kijing) untuk memanipulasi pasukan Belanda waktu itu, karena pada saat kepemimpinan Sultan Agung Belanda masih menguasai negeri ini. Keberadaan sultan Agung saat itu sangat mengganggu kekuasaan Belanda untuk bergerak, karena Sultan Agung adalah raja yang sangat kuat dan berpengaurh kepada masyarakat. Dari permasalahan itu maka Pemerintahan belanda memerintahkan kepada pasukan belanda untuk mengejar dan membunuh Sultan Agung. Petilasan Sultan Agung yang ada di Desa Kejawang dibuat kijing (batu nisan) untuk mengelabuhi pasukan belanda ketika menemukan peristirahatan Sultan Agung, dan melihat adanya batu nisan (kijing) pasukan belanda yakin dan terkecoh bahwa Sultan Agung sudah wafat. Bukti petilasan yang ada di gunung tambak sari ada 8 kijing, dimana posisi saat ini 4 kijing berada di dalam ruangan dan 4 kijing berada di luar ruangan.

4

Foto ditas adalah petilasan para punggawa kerajaan yang menemani Sultan Agung berada di sebelah timur lobi menuju ruang utama berjumlah 3.

5

Foto diatas petilasan prajurit kerajaan mataram yang menemani sultan Agung, berad di sebelah timur lobi bangunan utama berjumlah 1.

2

Sedangkan petilasan Sultan Agung berada di dalam bangunan (ruang) bersama 3 teman lainyya. Sebenarnya dulu belum ada bangunan hanya batu nisan saja, melainkan untuk menjaga dan menjadikan wilayah (tempat) ini tidak rusak maka seorang tokoh masyarakat Desa Kejawang, kala itu tahun 1977 di bangun dan dijadikan tempat ini permanen dengan bangunan semen, oleh S. Mulyo Utomo. Beliau merupakan moro tua  dari Kepala Desa Kejawang sebelum pemerintahan Bp. Sadimin yakni beliau bapak Wahyo Utomo.

Pada saat berkunjung di gunung Tambak Sari sang Sultan merasa lapar dan memerintahkan salah satu prajuritnya yang bernama “Bondan Kejawan” untuk mencari makanan di sekitar gunung tersebut. Mendengar perintah sang raja Bondan Kejawan langsung melaksanakan perintahnya. Saat mencari makanan Bondan Kejawan melihat sebuah rumah dan langsung saja ia menghampiri dan memanggil penghuni rumah tersebut. Setelah memanggil-manggil maka keluarlah penghuni rumah tersebut dan ternyata seorang wanita 60 tahunan, ia bernama Nyai Jemik. Setelah bertemu maka Bondan Kejawan menyampaikan kedatangannya kepada Nyai Jemik, bahwa dia sedang lapar dan ingin meminta makanan. Tanpa ragu dan dengan senang hati Nyai Jemik ini menyediakan makanan untuk Bondan Kejawan. Setelah kenyang Bondan Kejawan baru menceritakan bahwa di daerah pegunungan ada seorang Raja dan para pengikutnya yang sedang kelaparan. Mendengar cerita itu maka Nyai Jemik terkejut dan sangat kagum, setelah itu Nyai Jemik meminta bantuan Bondan Kejawan untuk menyiapkan makanan yang akan di sajikan kepada sang Raja beserta para pengawalnya. Nyai Jemik bersama Bondan Kejawan menyiapkan makanan dan makanan itu berupa:

  1. Satu buah ayam Panggang di buat GECOK (ayam panggang di sewir2 diberi santan dan terasa pedas)
  2. Sayur bening daun kelor (tegean kelor satu baskom)
  3. Sambal terong (sambal terong yang kecil-kecil sebesar kelereng)
  4. 7 buah kepel nasi (giling pitu)

Setelah makanan siap maka Nyai Jemik beserta Bondan Kejawan membawanya ke tempat Sultan Agung singgah. Setelah sampai Sultan Agung dan para temannya terkejut, namun sang Sultan akhirnya memahami setelah Bondan Kejawan menceritakan semuanya. Pada saat mulai menikmati hidangan yang dibawa oleh Bondan Kejawang, Sultan Agung bertanya “kenapa nasinya hanya 7 kepel”….. Bondan Kejawan menceritakan bahwa Bondan Kejawan sudah makan di rumah Nyi Jemik karena sudah tak bisa menahan rasa laparnya. Akhirnya mereka tertawa bersama-sama. Di tengah-tengah menikmati hidangan makanan Sultan Agung berucap “ sungguh indah sekali dan sejuk gunung ini… sungguh menjadikan makanan ini TAMBAH SARI” istilah itu akhirnya di pakai sampai saat ini oleh warga Desa Kejawang, karena lidah orang jawa sulit akhirnya Tambah Sari menjadi Tambak Sari. Istilah Tambah Sari sebenarnya adalah tambah nikmat (semakin nikmat).

Lalu bagimana asal usul nama Kejawang????? Setelah menghabiskan semua hidangan, Sultan Agung  mengucapkan terima kasih kepada Nyi Jemik. Sebelum beliau meninggalkan gunung tambak sari ia berkata: Nyi Jemik,,,, terima kasih atas jamuan yang kamu berikan kepada kami,,, dan untuk mengenang kami pernah singgah disini maka jadikanlah tempat ini sebagai bukti sejarah kelak dikemudian hari, dan sebagai ucapan terima kasihku kepada prajutiku yang berusaha mencari makanan buatku maka wilayah ini saya kasih nama KEJAWAN, itu adalah nama belakang dari muridku, dan suatu saat nanti putra mu akan menjadi seorang pemimpin di wilayah ini.

Setelah berwasiat maka Sultan Agung dan kawan-kawannya meninggalkan desa Kejawang. Lalu kenapa berubah menjadi KEJAWANG padahal dulunya adalah Kejawan,, hal ini karena memudahkan orang berucap maka menjadi KEJAWANG. Dan ternyata benar bahwa putra pertama Nyi Jemik Menjadi Kepala Desa Kejawang pertama. Sampai saat ini warga Kejawang ketika bulan sa’ban dan Suro mengunjungi gunung tambak sari untuk bersiaroh dan berdoa, mengenang cikal bakal desa Kejawang di gunung tambak sari, selain bulan itu, adat warga Kejawang untuk acara pernikahan maupun sunatan selalu mengunjungi gunung itu unutuk berziaroh,, dan ziaroh ini dilakukan oleh sang penganten sunat maupun pengantin nikah. Dan setelah mengunjungi gunung tambak sari selalu mengadakan kenduri (syukuran) dan untuk mengenang zaman dahulu maka di dalam kenduri itu selalu ada menu-menu yang disajikan buat Sultan Agung dan bala punggawanya, yaitu: Satu buah ayam Panggang di buat GECOK (ayam panggang di sewir2 diberi santan dan terasa pedas), Sayur bening daun kelor (tegean kelor satu baskom), Sambal terong (sambal terong yang kecil-kecil sebesar kelereng), 7 buah kepel nasi (giling pitu).